Di Balik Disiplin Pesantren: Ta‘zīr, Ta’dīb, dan Batas Kekerasan
Penulis : Dr. Asep Rahmatullah, M.Pd.I
Harga : Rp. 100.000
Kehadiran buku Di Balik Disiplin Pesantren: Ta‘zīr, Ta’dīb, dan
Batas Kekerasan patut disambut dengan baik karena mengangkat salah satu
sisi penting kehidupan pesantren yang sering dipahami secara sederhana. Ta‘zīr
kerap hanya diterjemahkan sebagai hukuman, padahal dalam tradisi pesantren ia
berada dalam jalinan nilai yang jauh lebih luas, meliputi disiplin, adab,
tanggung jawab, kewibawaan guru, keikhlasan, tirakat, khidmah, serta harapan
akan keberkahan ilmu.
Pesantren sejak dahulu bukan hanya tempat mempelajari kitab dan
berbagai disiplin keislaman. Pesantren merupakan ruang pembentukan manusia. Di
dalamnya, ilmu berjalan bersama adab, kebebasan berdampingan dengan tanggung
jawab, dan ketekunan dibentuk melalui kebiasaan hidup yang teratur. Karena itu,
disiplin memiliki kedudukan penting dalam kehidupan pesantren. Namun, ketegasan
dalam mendidik senantiasa membutuhkan kebijaksanaan agar tidak kehilangan
tujuan utamanya, yakni membimbing manusia menuju kebaikan.
Buku ini menarik karena menempatkan ta‘zīr dalam hubungan yang
erat dengan ta’dīb. Sebuah teguran atau konsekuensi tidak semestinya
berhenti pada rasa takut atau kepatuhan sesaat, melainkan perlu mengantarkan
santri kepada kesadaran, tanggung jawab, dan perbaikan diri. Dari titik inilah
pembicaraan mengenai batas menjadi penting. Ketegasan harus tetap bertemu
dengan kasih sayang, kewibawaan harus berjalan bersama keadilan, sementara
pelaksanaan disiplin tidak boleh mengabaikan keselamatan dan martabat manusia.
Hal lain yang memberi kekayaan pada buku ini adalah hadirnya
suasana kehidupan pesantren dengan berbagai istilah dan tradisinya. Lalaran,
musyawarah, mustahīq, nadzam, khidmah, riyāḍah al-nafs, tirakat, serta
keyakinan tentang keberkahan ilmu tidak ditempatkan sebagai unsur yang berdiri
sendiri, melainkan sebagai bagian dari dunia nilai yang membentuk karakter
santri. Dengan demikian, pembaca memperoleh kesempatan untuk memahami disiplin
pesantren dari dalam tradisinya sendiri, sekaligus melihatnya dalam hubungan
dengan persoalan pendidikan yang terus berkembang.
Perubahan zaman tentu membawa tantangan baru. Kesadaran terhadap
keselamatan peserta didik, penghormatan terhadap martabat manusia, perkembangan
psikologi pendidikan, serta kebutuhan terhadap komunikasi yang lebih dialogis
mengajak lembaga pendidikan untuk terus melakukan pembacaan ulang terhadap
cara-cara yang digunakan dalam mendidik. Pembacaan ulang tersebut tidak harus
dipahami sebagai upaya meninggalkan tradisi. Sebaliknya, ia dapat menjadi jalan
untuk menjaga nilai yang paling mendasar dengan cara yang semakin matang dan
sesuai dengan kebutuhan zaman.

Posting Komentar untuk "Di Balik Disiplin Pesantren: Ta‘zīr, Ta’dīb, dan Batas Kekerasan "